Rabu, 10 September 2014
TKW Indramayu Mengaku Disekap Agen di Singapura
TKW Indramayu Mengaku Disekap Agen di Singapura
Indramayu, Pelita
Nuridah (18 tahun), warga Blok Karanganyar Desa Patrol Baru Kecamatan Patrol Kabupaten Indramayu mengalami depresi berat dan kelumpuhan sepulang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Singapura.
Selama bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) Nuridah mengalami siksaan fisik dan psikis yang hebat. Selama 13 bulan di Singapura, ia disekap dan ditempatkan dalam ruangan sempit layaknya tahanan.
Ironisnya, perlakuan tak manusiawi itu bukan dilakukan majikannya tapi justru oleh agennya. Dan akibat depresi yang dialaminya, Nuridah kini harus menjalani perawatan di RSUD Indramayu.
Gadis yang akrab disapa Nur ini mengatakan, kisah pahit yang dialaminya terjadi saat ia berniat mengadu nasib menjadi TKW ke Singapura. Setelah mempersiapkan seluruh dokumen yang dibutuhkan, putri bungsu pasangan Satim (50 tahun) dan Titin (45 tahun) tersebut lalu mendaftar ke PT Rajasa Intama, Pluit, Jakarta Utara.
Tak lama, ia lalu diberangkat menjadi PRT pada keluarga Phua Swee Hoon. Namun selama bekerja pada keluarga tersebut, Nur mendapat perlakuan yang kurang baik. Jatah makannya dibatasi sehingga berat badan Nur menurun drastis.
Karena tak tahan ada pembatasan jatah makan, Nur lalu minta kepada agencynya disana untuk berganti majikan. Selama menunggu dapat majikan baru, Nur lalu ditampung pihak agen dan tinggal bersama dengan Zeni Chua.
Di tempat itulah Nur mulai mengalami penyiksaan fisik dan psikis. Ia disekap oleh agennya dan ditempatkan pada sebuah ruangan sempit. Yang mengenaskan, setiap kali disiksa, tangan Nur diikat degan lakban.
Rupanya, sikap tidak manusiawi yang ditunjukkan agen merangkap majikan baru itu tidak melulu berupa penyiksaan fisik. Beberapa kali Nur dipaksa meninggalkan agama yang dianutnya dan harus memeluk agama baru. Jika tidak menuruti, lagi-lagi Nur harus menerima pukulan dari sang majikan.
Keadaan seperti itu terus dirasakan Nur. Puncaknya, kurang dari sepekan terakhir, Nur nekat kabur dari rumah agennya. Ia lalu menghubungi pihak perusahaan di Jakarta agar bisa dipulangkan ke kampung halamannya.
Tiba di Jakarta, kondisi Nur sangat memprihatinkan. Ia mengalami depresi sangat berat dan kedua kakinya lumpuh. Malah akibat penyiksaan fisik dan psikis yang hebat, tubuhnya hanya bagai tulang dibalut kulit. Berat badannya turun drastis yakni hanya 35 kg. Padahal, berat badan normal untuk gadis seusianya mencapai 45 kg.
Mendengar Nur sudah ada di penampungan PT Rajasa Intama di Jakarta, orang tua dan kerabat Nur menjemputnya. Begitu tiba di rumah, Nur langsung kami larikan ke RSUD Indramayu. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Ia sering meracau tidak karuan karena depresi yang dialaminya itu, ungkap Asmari (23 tahun), kakak kandung Nur kepada Pelita,
Ditambahkan Asmari, sampai saat ini pihak keluarga belum menerima pernyataan resmi baik dari perusahaan di Jakarta maupun dari agency di Singapura. Sebab selain tidak pernah menerima gaji selama bekerja di Singapura, keluarga juga menuntut tanggungjawab beberapa pihak, termasuk PT. Rajasa Intama, terkait kondisi yang dialami adiknya itu.
Kami menuntut tanggungjawab perusahaan di Jakarta dan agency di Singapura. Sebab sampai sekarang belum ada santunan atau asuransi apapun, padahal keberangkatan Nur itu legal, tandasnya.
Dihubungi terpisah, petugas Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Disosnaker) Kabupaten Indramayu, Hendra Pondaga, mengatakan, kasus yang menimpah TKW malang asal Desa Patrol Baru ini belum dilaporkan kepada pihaknya.
Untuk itu, ia menyarankan agar pihak keluarga segera membuat laporan agar Disosnaker bisa membantu melakukan upaya tuntutan seperti yang diharapkan. Sementara, perihal kondisi depresi dan kelumpuhan yang diderita Nur, Hendra menjelaskan, akan dilakukan cek ulang ke bandar udara (bandara) di Singapura dan Jakarta.
Setiap ada yang menderita sakit, pasti memperoleh rekomendasi dari bandara. Rekomendasi itu yang nantinya akan menjadi salah satu syarat klaim TKW untuk asuransi atau hak-hak lain yang belum dibayarkan, tandasnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar